BEBASKAN PELAKU PEMBAKARAN HUTAN : HUKUM (SI) HAKIM

Cukup bersabar 1 jam 10 menit, akhirnya pilot mengumumkan persiapan untuk landing di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Di akhir Desember 2015 kemarin, akhirnya saya bisa menjejakan kaki kembali di kota yang terletak di bagian tengah pulau Kalimantan ini. Beberapa saat sebelum pesawat menyentuh landasan, saya sempatkan untuk melihat-lihat ke luar jendela. Liuk Sungai Kahayan masih sangat jelas mengisi pandangan saya. Cantik, tapi sayangnya sudah tidak secantik dulu lagi. Hutan yang dulu terhampar luas sudah hampir tersamarkan hijaunya oleh goresan hitam kecoklatan sisa-sisa hutan yang terbakar.

Mungkin pemandangan ini hampir serupa dengan pemandangan di bagian sisi lain Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang juga sama terkena bencana kebakaran hutan di tahun 2015 kemarin. Hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau tiap tahun Indonesia harus berjibaku dengan bencana kebakaran hutan, anak cucu di beberapa tahun mendatang apa masih bisa menikmati indahnya hutan dan merasakan manfaat dari kekayaan alam yang terkandung di dalamnya?

Lebih-lebih, adanya putusan Hakim Parlas Nababan di Pengadilan Negeri Sumatera Selatan yang seakan memberi lampu hijau bagi tindakan pembakaran hutan. Toh, tidak merusak lingkungan sebab masih bisa ditanami lagi. Putusan yang seketika menjadi trending topic dan sukses menggeser (atau menutupi?) kasus-kasus besar lain yang sempat menjadi perbincangan keras publik. Terlebih saat masyarakat menyoroti disparitas putusan hakim atas kasus yang serupa sebagai pembanding. Beragam meme unik menohok menjadi cerminan kekecewaan masyarakat atas putusan hakim yang dirasa kelewat ngawur ini.

Entah bagaimana hakim menafsirkan dan menginterpretasikan aturan hukum untuk memecahkan kasus pembakaran hutan tersebut hingga berujung pada tercetusnya putusan bebas bagi perusahaan pelaku pembakaran hutan. Entah dikemanakan nilai – nilai dasar hukum seperti kepastian hukum, perlindungan hukum, serta keadilan yang seharusnya diperhatikan oleh hakim dalam setiap putusan apapun itu kasusnya.

Anggap saja hukum yang digunakan oleh si hakim adalah hukumnya sendiri. Jadilah hukum (si) hakim bikin praktik penegakan hukum di negara penuh drama ini jadi makin carut marut😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s