NGOBROL SERU BARENG KOMUNITAS AYO #DOLAN MUSEUM

Minggu sore (01/10/2015) kemarin saya berkunjung ke Museum Ranggawarsita untuk mengikuti Talkshow Ngobrol Seru Bareng Komunitas Ayo #Dolan Museum. Talkshow ini merupakan acara pembuka dari rangkaian besar gelaran Museum Mart 2015 di Museum Ranggawarsita Jawa Tengah yang akan dilaksanakan pada 02 November 2015 – 06 November 2015. Hadir sebagai pembicara dalam Talkshow yaitu Mas Rukardi (Jurnalis – Penggiat Sejarah), Mbak Ami (Duta Museum 2012), dan Kak Devi (Dosen – Traveller). Dalam talkshow tersebut banyak dibahas apa itu museum, beragam museum di Indonesia, serta problematika dan tantangan apa yang dihadapi oleh Museum di Indonesia saat ini.

Jika bicara problematika museum, sebenarnya problematika yang dihadapi termasuk persoalan yang sangat klasik, yaitu rendahnya minat masyarakat untuk berkunjung ke Museum. Museum merupakan tempat menyimpan dan merawat benda-benda yang memiliki nilai sejarah atau memiliki makna tertentu, sehingga masyarakat dapat dengan mudah menyaksikan atau mengakses benda-benda tersebut. Logikanya, museum mestinya menjadi tempat menarik yang siap membawa pengunjung menikmati banyak rahasia-rahasia jejak masa lalu. Nyatanya?!

Museum Indonesia (Selalu) Gagal Tebar Pesona

“Kapan terakhir ke Museum?” Pertanyaan tersebut berkali-kali dilontarkan oleh moderator kepada ketiga pembicara maupun kepada peserta talkshow. Saya pun berusaha mengingat kapan saya terakhir kali ke museum. Akhir tahun 2014. Ah, sudah cukup lama sekali.

Kak Devi mengungkapkan bahwa selama ini museum identik dengan kata spooky, membosankan, nggak gaul, dan suram. Kebanyakan yang datang ke museum adalah anak-anak sekolah baik untuk tour wisata atau tugas sekolah. Hal tersebut pun dikuatkan oleh pernyataan Kepala Museum Ranggawarsita, Bapak Steve, yang mengungkapkan bahwa sebagian besar pengunjung museum adalah anak sekolah, kisaran SD hingga SMP.

Saya sepakat. Kita tidak bisa menyangkal bahwa kesan suram, membosankan, menakutkan, atau museum sebagai tempat yang identik dengan anak-anak sekolah memang sangat lekat dengan identitas museum. Sering kali saat mengajak teman-teman untuk berkunjung ke museum, saya jarang mendapatkan respon yang positif dan antusias. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul, “mau ngapain ke museum?”, “memang ada apa di museum?”, atau “memangnya sudah kekurangan list destinasi sampai harus ke museum segala?”.

Dari masa ke masa, museum gagal menebar pesonanya di masyarakat, khususnya pada kalangan usia dewasa. Bahkan, pada kalangan anak-anak hingga remaja pun patut dipertanyakan, kunjungan ke museum dilakukan karena memang atas dasar minat atau hanya karena adanya tuntutan dari pihak sekolah.

PR Besar Museum dan Masyarakat

Rasa-rasanya menumbuhkan minat dan kesadaran masyarakat untuk berkunjung ke museum menjadi pekerjaan rumah besar yang belum (tidak) kunjung usai hingga saat ini. Bagaimana pun, museum harus bisa meneruskan “pesan-pesan masa lalu” kepada generasi muda, dan tentunya hal ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Akan sangat disayangkan apabila pesan sejarah atau pesan budaya hilang begitu saja di satu generasi. Bukankan generasi-generasi selanjutmya juga berhak dan perlu mengetahui pesan-pesan tersebut?!

Bagaimana caranya mengubah mindset masyarakat, khususnya anak muda, yang sudah terlanjur ogah menuliskan museum pada list jalan-jalannya? Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mas Rukardi dan teman dari perwakilan komunitas Explore Semarang bahwa museum perlu bertransformasi mengikuti perkembangan jaman. Mba Ami pun menambahkan, bahwa museum harus dapat melihat apa kebutuhan dan trend masyarakat sekarang sehingga hal tersebut dapat digunakan oleh museum sebagai media untuk melakukan promosi.

Perlu diingat betul bahwa statistik kunjungan ke museum tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk menggambarkan minat masyarakat berkunjung ke museum. Sungguh menjadi pekerjaan rumah yang berat untuk menghadirkan keinginan atau minat berkunjung ke museum di benak masyarakat kita yang sudah terlanjur memiliki penilaian negatif terhadap museum.\

Menjadi catatan pula bahwa pekerjaan rumah tersebut bukan harga mati hanya menjadi tanggung jawab museum. Masyarakat yang minimal sudah punya kesadaran atau tahu pentingnya #dolan museum pun perlu menebar virus nagih untuk berkunjung ke museum.

Bukan sekedar mimpi kan kalau suatu hari nanti bisa melihat museum padat dengan pengunjung yang wajah-wajahnya antusias, lalu bangga berkata “Museum di Hatiku” ???

Semoga…

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s