STRUKTUR DASAR SURAT PERJANJIAN / KONTRAK

Ketika membuat sebuah perjanjian dengan pihak lain, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, harus dipastikan perjanjian tersebut telah sah secara hukum (baca kembali : syarat-syarat sahnya perjanjian). Kemudian, apabila perjanjian tersebut akan dituangkan ke dalam bentuk tertulis, maka ada beberapa hal penting yang tidak boleh luput untuk dicantumkan secara jelas. Beberapa ahli memberikan pandangan mengenai hal-hal apa saja yang perlu ada di dalam sebuah surat perjanjian.

Scott J. Burnham mengemukakan beberapa hal yang perlu dicantumkan dalam kerangka sebuah surat perjanjian, yaitu sebagai berikut :

  1. Bagian pembuka (description of instrument).
  2. Identitas para pihak (caption).
  3. Peralihan / transisi (transition).
  4. Latar belakang (recital).
  5. Definisi (definition).
  6. Klausul transaksi (operative language).
  7. Penutup (closing).

Hampir serupa, Ray Wijaya mengemukakan pula hal-hal mendasar yang perlu ada dalam struktur surat perjanjian, yaitu :

  1. Judul
  2. Pembukaan
  3. Komparisi
  4. Premis / Recital.
  5. Isi perjanjian.
  6. Penutup
  7. Tanda tangan para pihak.

Memang tidak ada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai bentuk formal / struktur sebuah perjanjian, namun pada dasarnya, beberapa hal tersebut di bawah ini seharusnya ada tercantum di dalam sebuah surat perjanjian.

  1. Judul

Ada atau tidaknya judul dalam sebuah surat perjanjian memang tidak menentukan sah atau tidaknya sebuah surat perjanjian, namun judul menjadi identitas bagi surat perjanjian itu sendiri. Hanya dengan membaca judul, orang akan mendapatkan gambaran mengenai jenis surat perjanjian tersebut. Oleh sebab itu, ketika membuat surat perjanjian, pastikan ada judul surat yang jelas dan memiliki korelasi antara judul dan isi perjanjiannya.

  1. Komparisi

Bagian komparisi berisi keterangan-keterangan mengenai para pihak dalam perjanjian, atau atas permintaan siapa perjanjian tersebut dibuat.

  1. Premis / recital

Premis merupakan keterangan pendahuluan dan uraian singkat para pihak mengenai perjanjian tersebut. Premis dapat dijelaskan pula sebagai latar belakang yang menjelaskan mengapa perikatan tersebut dibuat di antara para pihak yang tersebut pada bagian komparisi.

  1. Isi Perjanjian

Isi perjanjian biasanya berupa pasal-pasal yang memuat ketentuan-ketentuan yang diperjanjikan atau disepakati bersama. Isi dari perjanjian haruslah urut, tegas, memiliki keterpaduan dan kesatuan, serta lengkap menjelaskan kondisi atau suatu hal yang diperjanjikan.

  1. Penutup

Pada bagian penutup, harus ditegaskan bahwa surat perjanjian yang dibuat merupakan alat bukti yang dapat dipergunakan di kemudian hari jika terjadi sengketa / konflik. Disebutkan pula pada bagian penutup mengenai tempat pembuatan perjanjian dan para pihak yang menandatangani perjanjian, serta disebutkan saksi-saksi yang terlibat dalam pembuatan perjanjian. Terakhir, yang tidak boleh dilupakan pada bagian penutup tentunya adalah tanda tangan para pihak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s