‘PESTA’ LAGI, MIMPI LAGI

Sepulang kantor beberapa hari yang lalu, sedang ada kampanye calon walikota dan wakil walikota. Saya sempat menunda untuk buru-buru keluar dari halaman kantor. Daripada terjebak macet??? Bersama dengan beberapa rekan, saya pun ikut menonton. Teriakan yel-yel masing-masing pendukung dan musik dangdut yang diputar keras, beradu dengan bisingnya kendaraan yang mereka tumpangi. Ramai sekali. Masih pula ada atribut spanduk dan poster yang mengekspose wajah pasangan walikota dan wakil walikota lengkap dengan slogannya masing-masing. Sukses membuat mata saya ndak berkedip.

Ndak ada yang menarik sih sebenarnya, saya cuma selalu sukses terbengong-bengong kalau ada pemandangan seperti tadi. Bengong lengkap dengan bermacam-macam pertanyaan yang tiba-tiba muncul berseliweran di kepala.

***

Sebelum sampai tahap ini, cukup banyak yang merasa mampu menjadi pemimpin mendaftarkan diri. Seiring proses, banyak yang gugur saat seleksi. Lantas, yang kuat yang bertahan dalam pentas demokrasi. Masing-masing punya slogan, visi misi, dan targetnya sendiri. Ada masanya nanti akan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Blusukan ke daerah pelosok pun pasti dilakoni. Untuk sebuah kata “demi…..” yang entah apa maksudnya.

Rasa-rasanya ndak tepat kalau dibilang cuma ‘cabe-cabean’ yang ramai pencitraan. Yang sedang bertarung di pentas demokrasi pun pasti (semakin) sibuk pencitraan. Siapa bilang pencitraan ndak penting? Penting dong. Nah, pintar-pintar rakyat saja yang menilai sendiri nanti. Cermat mengenali calon pemimpin.

Ndak nyinyir. Saya hanya mendadak gelisah kalau mau ada ‘pesta’ begini. Bisa ndak calon-calon pemimpin itu ndak kebanyakan ngomong? Ndak kebanyakan janji muluk-muluk? Saya paham rasanya jadi pemimpin walaupun hanya dalam lingkup kecil. Ndak gampang. Apalagi dalam lingkup yang lebih besar, dengan puluhan ribu, atau malah jutaan kepala yang cara berpikirnya berbeda-beda. Bahkan sampai perkara persoalan hidupnya pun beragam.

Ndak heranlah rakyat suka minta macam-macam. Ndak heran rakyat jadi terkesan cerewet menagih janji. Selesai urusan dengan ‘maunya’ yang satu, masih ada banyak lagi ‘mau2nya’ yang lain yang harus dipenuhi. Ndak jarang juga rakyat jadi dibilang manja.

Ndak usah pusing. Dari awal harus ngerti resikonya. Itu baru satu dari sekian banyak problem yang harus dihadapi sebagai pemimpinnya rakyat. Kalau sudah berani maju, berarti paham resikonya, dan siap menghadapinya. Ndak usah ngeluh rakyat ndak paham susahnya jadi pemimpin. Mungkin iya, karena mereka hanya paham hidupnya sudah susah, dan kewajiban pemerintah untuk bertanggungjawab mengelola semua kekayaan negara ini supaya bisa bikin rakyat ndak susah lagi.

***

Hmm…, ‘pesta’ lagi, rakyat mimpi lagi, tapi semoga kali ini ada yang terealisasi.

Berharap sekali ‘pesta’ kali ini bisa sukses dan lancar. Masih pula berharap pemimpinnya bisa lebih baik. Ndak perlu sempurna, yang penting baik…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s