AYO, BUDAYAKAN BERKENDARA DENGAN BAIK DAN BENAR  

Beberapa hari ini, entah kenapa, sedang sering sekali melihat kecelakaan di depan mata dan mendengar berita tentang kecelakaan. Terakhir, berita yang saya baca sebelum akhirnya terdorong untuk membuat tulisan ini, yaitu ada sebuah truk yang menyerempet sebuah sepeda motor, yang berakibat si pengendara sepeda motor meninggal di tempat. Memprihatinkan.

Sejujurnya, saya orang yang cukup takut dengan kata ‘kecelakaan’. Apa sebab? Penyebabnya, pernah dua kali mengalami kecelakaan yang cukup serius sewaktu jaman kuliah dulu. Pertama, mobil yang sedang saya dan teman-teman tumpangi ditabrak di salah satu jalan tol di ibu kota yang hampir membuat nyawa saya melayang. Untung saya menggunakan seat belt, dan Tuhan masih sayang (Thank’s God). Walaupun ditabrak, sebenarnya kesalahan ada pada teman saya yang kurang berhati-hati ketika menyetir, bukan pada mobil yang menabrak. Kecelakaan kedua ketika saya dan teman mengendarai sepeda motor, ditabrak (lagi) di perempatan jalan saat pulang kuliah, dan sukses membuat bahu saya retak hingga harus istirahat berhari-hari di tempat tidur. Kali ini, saya yang jadi korban dari kelalaian orang lain.

Dari pengalaman tersebut, ada pelajaran berharga yang saya dapatkan. Saya sungguh belajar benar  bagaimana untuk selalu berhati-hati ketika berkendara. Berhati-hati ketika berkendara menunjukkan penghargaan terhadap diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Berkendara dengan baik dan benar saya rasakan menjadi sebuah kewajiban yang harus selalu dilakukan. Teman saya pernah berkata begini, “iya kita hati-hati, tapi bagaimana dengan orang lain? Kita hati-hati tapi orang lain tidak ya tetap saja kita akan kena. Apes ya apes saja.”  Hmm…tidak ada yang salah dengan kalimatnya. Saya pernah mengalami dan merasakan sendiri bagaimana ketika saya sudah berhati-hati tapi orang lain tidak, ya itu tadi, ditabrak🙂

Tapi bukankah tidak ada salahnya untuk tetap terus berhati-hati, serta berkendara dengan baik dan benar ketika sedang berada di jalan? Paling tidak itu akan meminimalisir kemungkinan kita mencelakakan orang lain dan diri sendiri. Kalaupun memang sedang apes, setidaknya akan mengurangi kemungkinan cidera yang cukup berat.

Berhati-hati, serta berkendara yang baik dan benar bagaimana? Sebut saja beberapa contohnya begini :

  1. Yang pastinya selalu berdoa ketika akan melakukan perjalanan keluar rumah.
  2. Gunakan helm standar ketika bepergian bagi pengendara sepeda motor. Bagi pengendara mobil, jangan lupa selalu gunakan seat belt.
  3. Jangan pernah otak atik handphone ketika sedang berkendara. Apabila memang penting, akan lebih baik jika berhenti terlebih dahulu di pinggir jalan, setelahnya baru lanjutkan kembali perjalanan anda.
  4. Jangan pernah bercanda yang berlebihan di jalan. Tidak jarang saya melihat ada dua atau lebih pengendara sepeda motor berjalan berdampingan sambil ngobrol dan bercanda colak colek tidak jelas. Selain itu bukan jalan nenek kita, kasihan orang lain yang mau lewat. Begitu juga di dalam mobil, jangan bercanda yang berlebihan sehingga mengganggu konsentrasi orang yang sedang menyetir.
  5. Patuhi rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan. Misalnya, jika ada rambu dilarang putar balik, ya jangan putar balik di situ. Sabar saja mencari tempat putar balik lain yang diperbolehkan.
  6. Selalu manfaatkan komponen yang tersedia di kendaraan anda. Apa itu? Contohnya gunakan spion dengan baik dan benar (jangan hanya digunakan untuk melihat masa lalu. Just kidding). Pasti ada maksudnya kan kenapa spion diciptakan untuk ada di kendaraan? Dan pasti ada alasan kenapa Pak Polisi selalu menilang ketika spion tidak lengkap, yang berarti keberadaan spion ini cukup penting dalam berkendara. Contoh komponen lain yaitu lampu sein. Ini penting! Gunakan lampu sein ketika kita akan berbelok ke kanan maupun ke kiri. Nyalakan beberapa meter sebelum berbelok, jangan beberapa milimeter ketika akan berbelok. Atau malah sama sekali tidak dinyalakan. Yang terakhir benar-benar membuka peluang bagi anda untuk mencelakakan orang lain dan diri sendiri. Ya minimal membuat anda mendapat makian dari orang lain. Gunakan juga lampu sein ketika akan mendahului kendaraan lain.
  7. Jangan pernah menganggap jalan raya sebagai arena balap! Anda tidak akan terlihat keren ketika bisa mengemudi dengan ‘lincah’ menggunakan kecepatan tinggi di jalanan yang sedang ramai, justru akan terlihat sangat menyebalkan bagi pengguna jalan lain.
  8. Selalu perhatikan pengguna jalan lain di sekitar anda. Anda tidak sedang berada di kuburan yang sepi, melainkan di jalan raya. Sebagai contoh, ketika akan berbelok keluar dari sebuah jalan memasuki jalan yang baru, selalu lihat kanan kiri, jangan asal nyelonong berharap orang lain yang mengalah. Sabar untuk giliran anda apabila masih ada kendaraan lain.
  9. Jangan berkendara melawan arah. Bahasa gaulnya ‘mlipir’.  Masih tetap nekat ‘mlipir’? Terserah sih, cuma kalau akhirnya ditabrak, jangan pernah marah-marah ke yang nabrak ya. Tapi seringnya sih justru yang melawan arah yang duluan marah-marah sambil ngomong ‘punya mata gak?’  Nah loh…loh…??!
  10. Ini yang tidak kalah penting tapi sepertinya sering sekali dilanggar oleh cukup banyak orang. Sabarlah menghadapi traffic light. Lampu merah menyala berarti sudah jelas harus berhenti, jangan pernah nekat menerobos! Nah, kalau yang kuning menyala? Banyak orang yang suka tertukar antara yang seharusnya menginjak rem malah jadi menginjak pedal gas dengan dalih ‘masih sempat’.

Masih banyak sebenarnya yang harus dilakukan sebagai pengendara yang baik dan benar di jalan raya. Tidak ingin mencelakakan orang lain atau bahkan mencelakakan diri sendiri bukan? Maka selalu berhati-hati, serta berkendaralah dengan baik dan benar. Tidak perlu menunggu anda yang menjadi korban dulu kan? Ayo, selalu budayakan berkendara dengan baik dan benar. Drive Safely, Ride Safely. Wajib!

4 comments

  1. Budaya berkendara dengan baik dan benar hanyalah mitos…

    …selama orang tua masih membiarkan anak-anaknya yang masih di bawah umur melenggang dengan bebasnya di atas motor, tanpa helm, dan ngawur.

    …selama budaya “uang damai” masih menggurita.

    …selama lampu kuning masih berarti : ngebutlah, keburu kena lampu merah.

    Well, anyway, budaya berkendara bukan hal yang mustahil kog, selama masih ada kesadaran dari diri sendiri dan masih ada rasa jengah ketika ada yang mengatakan “ngapain pake helm, tokh cuma deket ini”

    Artikel yang menarik..masih relevan sampai sekarang, bahkan selama kesadaran berlalu lintas dengan aman masih rendah :p

    #komentarsehat

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s