SAYA BINGUNG LALU MENULIS

Betul, saya bingung, maka saya putuskan menuliskan kebingungan saya.

Maksud hati ingin sedikit menenangkan pikiran dengan secangkir coklat di café setelah seharian membenamkan diri di perpustakaan. Ternyata saya menjadi pengunjung kesekian di café ini. Alhasil, hanya tersisa sebuah meja kecil di pojok ruangan, dan yang membuat saya sedikit jengah, kursinya tepat menghadap ke jendela samping gedung dengan pemandangan traffic light di perempatan jalan. Saya hanya mengacak-ngacak rambut berharap kejengkelan di hati sedikit hilang karena yakin tidak akan bisa menenangkan pikiran dengan pemandangan seperti ini.

Bukan karena keruwetan jalanan, kota ini jarang ruwet lalu lintasnya. Bukan pula karena bisingnya jalanan, café ini kedap suara. Pemandangan orang-orang yang sedang menjadikan perempatan traffic light sebagai tempat mengais rejekilah yang sedikit mengganggu niat awal saya tadi. Bukan saya apatis terhadap orang dewasa dan anak-anak yang menjual koran ataupun menjadi tukang lap kendaraan di traffic light di luar sana. Pikiran dan perasaan saya jusru selalu sukses teraduk-aduk setiap kali melihat mereka. Penyebabnya? Jiwa sosial saya yang terlalu sensitif, atau memang karena kondisi mereka sudah sedemikian tercabiknya oleh kekuasaan di negara ini. Entahlah.

Sebenarnya saya selalu suka duduk di mana pun dengan pemandangan seperti ini. Tidak disuguhi pun saya suka nekat mencari sendiri. Pemandangan yang memberikan saya gambaran sisi lain kehidupan di sebuah kota. Tidak hanya sekedar tentang megahnya gedung, gemerlapnya lampu-lampu, atau banyaknya pusat-pusat hiburan. Sesuatu yang lebih krusial di balik segala yang indah dan nampak ‘wahhh’ dari sebuah kota, itu semua lebih menarik bagi saya. Hal tersebut selalu sukses mengingatkan untuk bersyukur dan tidak berlebihan dalam menjalani hidup. Mengajarkan saya pentingnya untuk selalu menengok ‘ke atas’ dan ‘ke bawah’ serta tidak selalu hanya fokus pada diri sendiri. Hanya saja dengan niat awal ingin santai, tanpa perlu berpikir yang berat-berat, pemandangan di luar sana sedikit mengacaukan niat dan pikiran saya.

Beberapa saat saya hanya terduduk di kursi sambil memandang keluar jendela. Sesekali saya berusaha menemukan titik simpul dari segala macam hal yang berseliweran di pikiran akibat pemandangan di luar sana, tapi gagal. Sama seperti persoalan di negara ini, layaknya benang kusut, susah dicari titik simpulnya, sulit diurai. Kadang untuk menyelesaikannya, kebanyakan orang cari gampang, asal ‘gunting’ saja dengan harapan akan selesailah masalah kekusutan tersebut, padahal justru menimbulkan masalah baru.

Kembali tentang orang-orang di traffic light di luar sana, yang sedang mengisi pandangan mata saya sedari tadi. Mereka itu punya hak. Hak mereka dijamin dan dilindungi dalam peraturan perundang-undangan di negara ini, tapi nyatanya? Omong kosong.

Pikir saya, mungkin penyebabnya begini. La Loi est l’expression de la volonte generale. Faktanya? Hukum justru menjadi perwujudan kehendak penguasa. Kekuasaan yang dimiliki oleh pemerintah seringkali berujung pada kesewenang-wenangan / pembodohan terhadap rakyat. Fakta historis membuktikan bahwa kekuasaan di tangan pemerintah tidak selalu diabdikan untuk kepentingan rakyat. Sebaliknya, kekuasaan yang dimiliki justru dimanipulasi untuk melayani kepentingan pribadi atau kelompok. Rakyat seringkali hanya diminta (baca : dipaksa) untuk manut saja. Keadaan tersebut kemudian menimbulkan realitas yang tidak ideal, yaitu peraturan / kebijakan hukum yang seharusnya berdampak konstruktif justru acapkali malah destruktif. Tidak heran pula apabila kemudian muncul adagium ‘hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas’.

Ah, sudahlah, saya pun bingung, sedang tidak terlalu tergelitik membahas keruwetan di negara ini. Ada baiknya mungkin terkadang kita tidak perlu berpikir terlalu ruwet. Contohnya, melihat nasib orang-orang seperti di luar sana itu, saya tidak perlu mencari siapa yang harus saya salahkan. Lebih baik berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk mereka, lalu lakukan. Terkadang hal kecil pun dampaknya besar. Pikir saya pun, kita wajib bergerak, tidak hanya menjadi saksi dari keadaan yang serba timpang tanpa melakukan apa-apa selain ‘beradu suara’ mengkritik pemerintah yang seringkali juga tidak dibarengi solusi.

 

3 comments

  1. Revolusi kak solusinya, hehehe… tapi kok cm negara dalam hal ini pemerintah yg berkuasa yg di kritisi, bagaimana dg agama? Sudahkah agama mensejahterakan umat manusia?

    Like

  2. @kak danangpj
    Iya sih kak, tapi masalahnya agama itu sesuatu yang luar biasa sensitif. Aku belum punya cukup keberanian untuk mengkritisi kalau belum punya dasar justifikasi yang benar-benar kuat utk memvalidasi pernyataan-pernyataan dalam tulisan. Kalau nanti akhirnya akan mengkritisi ttg itu, mungkin really need your help kak :))

    Like

  3. agama itu adalah isme, sebuah keyakinan sakral yang melibatkan hati nurani dan akal budi. ia mempunyai banyak aturan yang dibuat oleh yang maha, maha segalanya. ia menembus ruang waktu yang seakan-akan memenjarakan kebebasan kita, padahal ajaran mulia didalamnya muaranya adalah kebahagiaan hakiki penganutya. pada gilirannya jika kita benar-benar sepenuh jiwa (kaffah) melaksanakan ajaran-Nya, sudah janji-Nya kesejahteraan itu bagi ummat-Nya. jika sikaya yang beragama berbagi dengan sipapa, jika hak-haknya dibayarkan oleh kaum berada, maka sedikit tapi pasti kita akan semakin jarang mendapati sipapa berpeluh di sudut-sudut kota. so, ajaran suci dalam agamasudah sedemikiannya, tinggal apa dan bagaimana kita memaknainya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s