TENTANG MANUSIA DAN KEBEBASAN

Sore itu,  saya duduk-duduk di sebuah bukit memandang kota dari kejauhan. Hal yang rasanya sudah lama tidak saya lakukan semenjak pindah dari kota kecil tempat dulu berkuliah. Hal yang menarik sore itu adalah melihat serombongan burung yang beramai-ramai kembali ke sarangnya dan membuat saya tiba-tiba teringat pada seorang kawan yang pernah berujar bahwa ia ingin menjadi seperti burung. Kenapa? Karena menurutnya burung itu bebas. Ia ingin punya hidup yang bebas. Seketika saya juga teringat pada cukup banyak kawan yang menyerukan inginnya memiliki kebebasan. Ingin hidup bebas, sebebas-bebasnya tanpa ada aturan ataupun batasan. Saya hanya menarik napas panjang mengingatnya, maklum, saya bukan pengikut paham ‘hidup itu harus bebas sebebas-bebasnya tanpa batasan’. Toh, mereka yang menganut paham tersebut nyatanya secara tidak disadari pun masih terikat saja pada aturan/batasan.

Apabila dikatakan bahwa kebebasan merupakan hal mendasar bagi manusia dan merupakan syarat penting bagi humanisasi, saya sangat setuju. Erich Fromm bahkan menegaskan bahwa kebebasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi manusia. Pertanyaannya, terkait dengan ketidaksepahaman saya dengan paham sebagian orang yang memandang bahwa ‘hidup itu harus bebas sebebas-bebasnya tanpa batasan’, apa makna kebebasan itu sendiri? Adakah kebebasan mutlak bagi manusia di dunia ini?

Inilah yang saya pahami atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang kemudian menjadikan saya tidak sepaham bahwa ‘hidup itu harus bebas sebebas-bebasnya tanpa batasan’…..

*****

Apa makna kebebasan???

Jika berbicara mengenai kata ‘kebebasan’, maka yang pertama dipikirkan oleh kebanyakan orang adalah bahwa orang lain tidak memaksa kita untuk melakukan sesuatu melawan kehendak kita. Kita dapat melakukan apa saja yang kita mau. Munculnya pemikiran seperti ini menurut Bertens akibat terlalu mencampuradukkan kebebasan dengan ‘merasa bebas’. Jika direflesikan lebih dalam maka akan tampak bahwa sebenarnya kebebasan tidak dapat disamakan dengan ‘merasa bebas’ atau merasa dilepaskan dari segala macam ikatan sosial dan moral.

Bebas memiliki makna yang lebih mendasar, yaitu bahwa kita dapat menentukan sendiri apa yang ingin kita lakukan, berbeda dengan binatang. Mengenai seorang kawan yang ingin seperti burung sebab dianggapnya burung sebagai mahkluk yang bebas, agaknya kurang tepat. Saya sependapat dengan Franz Magnis Suseno yang menyatakan bahwa binatang tidak memiliki kebebasan. Apa yang dilakukan oleh binatang ditentukan oleh insting dan kecondongan-kecondongan alamiah lainnya. Dalam semua situasi dan terhadap segala perangsang, binatang selalu bereaksi menurut pola instingualnya sehingga bagaimana kelakuan seekor binatang dapat diramalkan sebelumnya. Berbeda dengan binatang, manusia merupakan mahkluk yang berakal budi sehingga memiliki pengertian. Pengertian itu berarti bahwa ia memahami adanya alternatif-alternatif untuk bertindak. Itulah sebabnya manusia merupakan mahkluk yang bebas.

Kebebasan manusia bukan berarti tiadanya hambatan-hambatan. Kebebasan harus dimengerti secara positif, yakni kemampuan manusia untuk menentukan dirinya. Kebebasan pertama-tama adalah kemampuan dari dalam diri untuk mengambil jarak terhadap dirinya sendiri atau kemampuan untuk berefleksi diri. Dengan itu manusia mampu menentukan diri sendiri dan tindakannya. Karena kehendak bebasnya, manusia dalam bertindak tidak tergantung pada dorongan-dorongan naluriah, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan.

Menurut Franz Magnis Suseno, sebenarnya sering diperdebatkan apakah kebebasan itu harus dipahami sebagai sesuatu yang positif dalam ungkapan ‘bebas untuk apa’ atau secara negatif sebagai ‘bebas dari apa’. Dengan pembedaan antara 2 (dua) segi kebebasan ini kita dapat melihat bahwa keduanya benar, namun tergantung pada kebebasan mana yang kita maksud. ‘Bebas untuk apa’ menyangkut sikap yang akan kita ambil, jadi yang dipertanyakan adalah kebebasan eksistensial. ‘Bebas dari apa’ sendiri lebih pada kebebasan sosial.

Jadi, adakah kebebasan mutlak???

Pemikiran yang cukup paradoksal mengenai kebebasan yaitu pemikiran dari seorang filsuf Prancis, Jean Paul Sartre. Ia adalah seorang eksistensialis yang paling ekstrim dalam mendewa-dewakan kebebasan. Sartre mengungkapkan “we are condemned to be free”. Ia bahkan berpendapat bahwa tidak ada batas lain untuk kebebasan daripada batas-batas yang ditentukan oleh manusia itu sendiri. Banyak filsuf yang menilai bahwa pendapat Sartre tersebut terlalu ekstrim.

Bebas sesungguhnya tidak berarti lepas dari segala keterikatan. Terdapat batas-batas penting bagi kebebasan. Pertama, faktor-faktor dari dalam manusia itu sendiri, baik psikis maupun fisik, atau dengan kata lain dibatasi oleh nature-nurture. Nature berarti semua yang manusia miliki secara alami, sedangkan narture meliputi semua faktor yang ditambah pada nature seperti pendidikan, asuhan, asupan makanan, dll. Batas yang kedua yaitu lingkungan. Ketiga, kebebasan orang lain, dan yang keempat yaitu generasi mendatang.

Kebebasan sendiri sebenarnya jumbuh dengan tanggung jawab. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kebebasan menjadikan manusia mempertimbangkan segala sesuatu, baik mengenai hasil, maupun dampak dari keputusan dan tindakannya. Hal tersebut sebenarnya memuat rasa tanggug jawab, yakni tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain.

Lagi-lagi saya sependapat dengan Franz Magnis Suseno, bahwa makin bertanggung jawab manusia, maka akan semakin bebaslah ia. Sebagian orang berpandangan bahwa apabila ia bertanggungjawab maka akan hilanglah kebebasannya, oleh sebab itu mereka menolak untuk bertanggung jawab. Justru sebenarnya ketika manusia menolak bertanggungjawab, maka ia bukannya menjadi lebih bebas. Kebebasan eksistensialnya justru semakin melemah. Sebaliknya, orang yang bersedia unuk bertanggungjawab semakin kuat dan bebas, serta semakin luas wawasannya.

*****

Bertolak dari pemikiran-pemikiran tersebut, maka sekiranya kita sebagai manusia menyadari bahwa pada dasarnya manusia memang mahkluk yang bebas, namun kebebasan bukan berarti manusia dapat berbuat seenaknya/semaunya. Meminjam istilah M. Sastrapratedja, kebebasan yang dimiliki manusia adalah ‘kebebasan dalam situasi’, oleh sebab itu, tanggungjawab menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tindakan manusia. Jangan takut pada tanggung jawab, sebab justru tanggung jawab menjadikan kita sebagai manusia yang bermutu. Semakin tinggi tanggung jawab manusia dalam menjalankan tindakan bebasnya, maka semakin bermutu pulalah kehidupan yang ia bangun.

“the secret of happiness is freedom, the secret of freedom is courage”

– Carrie Jones, Need –

One comment

  1. kebebasan asasinya adalah sebuah perilaku yang memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri, tapi seseorang yang mengaku menganut paham kebebasan esensinya dia sebenarnya terikat pada alur pemikiran dan pekertinya itu. karena hidup itu hanya perkara hitam dan putih, dan kebebasan itu banyak mengejawantah dalam hitamnya putih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s