TEORI STARE DECISIS

Teori stare decisis merupakan salah satu teori yang dikenal dalam bidang hukum, atau disebut juga dengan teori precedent, yang berasal dari kalimat stare decisis et non quieta movera. Teori ini berlaku di negara-negara yang menggunakan sistem hukum anglo saxon, dan merupakan hukum yang berlaku umum. 

Terkait putusan-putusan pengadilan, teori stare decisis mengungkapkan bahwa putusan pengadilan saat ini untuk kasus yang sama, harus memutuskan  sama seperti yang pernah diputus di masa lalu. Apabila hakim  akan menyimpang dari putusan hakim sebelumnya terhadap kasus yang sama tersebut, maka hal itu dapat dilakukan dengan menyebutkan alasan yang jelas dan logis.

Adapun manfaat dari diterapkannya teori stare decisis oleh pengadilan yaitu :

1. Stare decisis dapat meningkatkan unsur uniformitas

Unsur uniformitas penting bagi suatu putusan sebab merupakan salah satu unsur penting dari keadilan yang merupakan sasaran terpenting dari proses pengadilan yang panjang. Unsur uniformitas juga perlu guna menghindari adanya putusan pengadilan yang diputus secara sembarangan dan semena-mena.

2. Stare decisis dapat mkeningkatkan unsur efisiensi

Unsur efisiensi menjadikan hakim dapat menghemat waktu dan dengan cepat membuat putusan dengan mencontoh putusan sebelumnya dalam kasus yang serupa.

3. Stare decisis dapat meningkatkan unsur predictability

Jika pengadilan mendasari putusannya pada putusan-putusan pengadilan yang terdahulu terhadap kasus serupa, maka putusannya akan mudah diantisipasi oleh setiap orang yang berhubungan dengan hukum maupun bagi para pencari keadilan pada umumnya.

Kelemahan utama dari teori stare decisis adalah bahwa dengan berpegang pada putusan pengadilan sebelumnya berarti mempersempit ruang gerak dari hakim. Selain menghalangi kreativitas hakim, juga mengakibatkan putusan-putusan pengadilan semakin kaku yang berakibat putusan pengadilan semakin jauh dengan keadilan.

Dilihat dari segi kekuatan berlaku putusan pengadilan sebelumnya, maka teori stare decisis memiliki 2 (dua) arti, yaitu :

1. Teori berkekuatan lemah

Teori berkekuatan lemah ini pada prinsipnya menyatakan bahwa suatu putusan terdahulu meskipun telah dikumpulkan dan dipublikasikan, tetapi tidak harus disitir dan diikuti oleh putusan-putusan kemudiannya.

2. Teori berkekuatan kuat

Teori berkekuatan kuat pada prinsipnya menyatakan bahwa suatu putusan pengadilan sebelumnya bukan hanya dikumpulkan, dipublikasikan, tetapi juga memiliki otoritas sehingga pada prinsipnya harus diikuti oleh pengadilan-pengadilan sesudahnya.

Pada perkembangannya, dalam teori stare decisis dikenal 2 (dua) jenis putusan pengadilan, yaitu :

1. Putusan pengadilan yang bersifat otoritatif, yakni yang merupakan dasar hukum dan harus diikuti oleh putusan-putusan pengadilan berikutnya.

2. putusan pengadilan yang bersifat persuasif yang merupakan putusan-putusan pengadilan yang hanya bersifat historis saja, yakni yang boleh (tetapi tidak harus) diikuti oleh putusan-putusan pengadilan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s