HAKEKAT HUKUM : BAGAIMANA DIBAHAS DAN DITEMUKAN JAWABANNYA

Terlepas dari pertanyaan apa itu hakekat hukum dan bagaimana jawaban mengenai apa itu hakekat hukum, sebenarnya ada 2 (dua) pertanyaan lain yang muncul terkait hal tersebut. Ketika kedua pertanyaan tersebut diajukan, cukup menimbulkan tanda tanya dalam benak saya. Pertama, mengapa persoalan/pertanyaan mengenai apa itu hakekat hukum muncul? Kedua, bagaimana sebenarnya hakekat hukum itu dibahas dan ditemukan jawabannya?

Pembahasan dibawah ini  mencoba untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, dan tidak sampai pada menemukan jawaban mengenai apa itu hakekat hukum (mungkin akan dibahas pada tulisan selanjutnya).

Menurut H.L.A. Hart, ada tiga persoalan pokok yang muncul berulang-ulang sehingga memunculkan pertanyaan apa hakekat hukum[1], yaitu :

  1. Yang pertama, ciri umum dari hukum yang paling menonjol adalah bahwa eksistensinya berkaitan dengan perilaku manusia. Jenis-jenis tertentu perilaku manusia tidak lagi bersifat pilihan (opsional), melainkan dalam pengertian tertentu bersifat wajib. Karakteristik hukum yang nampak sederhana ini dalam faktanya tidaklah sederhana. Pemahaman paling sederhana dimana perilaku tidak lagi opsional adalah ketika seseorang dipaksa untuk mengerjakan apa yang dikatakan orang lain kepadanya dengan adanya ancaman dan konsekuensi yang tidak menyenangkan bila ia menolak. Jadi bagaimana hukum dan kewajiban hukum berbeda dari, dan bagaimana kaitannya dengan, perintah-perintah yang ditopang oleh ancaman. Hal ini menjadi permasalahan pokok yang ada di balik pertanyaan apa itu hakekat hukum.
  2. Persoalan kedua yaitu bagaimana perilaku mungkin tidak bersifat pilihan melainkan wajib. Peraturan-peraturan moral membebankan kewajiban dan menghilangkan pilihan bebas individu untuk melakukan hal yang ia sukai dalam wilayah perilaku tertentu. Jadi, bagaimana kewajiban hukum berbeda dari, dan bagaimana ia terkait dengan kewajiban moral, menjadi persoalan yang juga turut ada di balik pertanyaan apa hakekat hukum itu.
  3. Persoalan pokok ketiga yang terus menerus memicu persoalan apa hakekat hukum itu tergolong persoalan yang lebih umum, yaitu apa itu peraturan dan sampai kadar apa hukum merupakan persoalan mengenai peraturan.

Lalu, bagaimana hakekat hukum itu dibahas dan ditemukan jawabannya? Hakekat hukum itu sendiri dapat dijelaskan dengan cara memberikan suatu definisi tentang hukum. Definisi menarik garis batas atau membedakan antara jenis sesuatu dan yang lainnya, yang oleh bahasa ditandai dengan sebutan sendiri. Maksud dari definisi adalah untuk menetukan batas-batas sebuah pengertian secermat mungkin, sehingga jelas bagi tiap orang dalam setiap keadaan, apa yang diartikan oleh pembicara atau penulis dengan sebuah perkataan atau istilah tertentu.[2]

Sampai saat ini para ahli hukum sendiri pun masih mencari tentang apa definisi dari hukum. Membuat definisi hukum tidaklah mudah sehingga tidak mungkin orang dapat membuat definisi secara memuaskan. Sukarnya membuat definisi ini terbukti dari sejak jaman Romawi hingga sekarang tidak ada keseragaman di antara para sarjana atau ahli hukum mengenai definisi hukum.

Metode pendefinisian hukum itu sendiri menurut G.W. Paton (dalam Prof. Dr. Achmad Ali, SH., M.H.) dapat memilih salah satu dari lima kemungkinan, yaitu :[3]

  1. Sesuai sifat-sifatnya yang mendasar, logis, religius, ataupun etis.
  2. Menurut sumbernya, yaitu kebiasaan, preseden, atau undang-undang.
  3. Menurut efeknya di dalam kehidupan masyarakat.
  4. Menurut metode pernyataan formalnya atau pelaksanaan otoritasnya.
  5. Menurut tujuan yang ingin dicapainya.

Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk memahami hakekat hukum, di antaranya adalah sebagai berikut :[4]

1. Metode yang menggunakan pendekatan karakteristik atau atribut yang paling khas pada hukum.

     Leopold Pospisil menemukan empat atribut hukum yang penting, yaitu :[5]

  •  Attribute of authority, yaitu bahwa hukum merupakan putusan-putusan dari pihak-pihak yang berkuasa dalam masyarakat, putusan-putusan tersebut ditujukan untuk mengatasi ketegangan-ketegangan yang terjadi di dalam masyarakat.
  • Attribute of intention of universal application, yaitu atribut bahwa hukum dimaksudkan bagi penerapan secara universal, dan putusan-putusannya mempunyai daya jangkau yang panjang untuk masa depan.
  •  Attribute of obligation, merupakan ciri yang berarti bahwa putusan-putusan pengawasan yang harus berisi kewajiban-kewajiban pihak pertama terhadap pihak kedua dan sebaliknya. Dalam hal ini semua pihak harus masih dalam keadaan hidup.
  • Attribute of sanction, yang menentukan bahwa putusan-putusan dari pihak yang berkuasa harus dikuatkan dengan sanksi, yang didasarkan pada kekuasaan masyarakat yang nyata.

2. Metode yang menggunakan pendekatan aliran-aliran atau mazhab-mazhab pemikiran yang dikenal dalam ilmu hukum. Pertanyaan mengenai apa hakekat hukum, jawabannya tergantung pada aliran apa yang dianut oleh penjawabnya.

3. Metode yang menggunakan pendefinisian, antara lain mazhab hukum alam, mazhab legal-positivis, mazhab legal-realis, mazhab legal sosiologis, dan lain-lain.

4. Membaca maksim-maksim dan qoutes hukum yang pernah diucapkan oleh tokoh-tokoh terkemuka di bidangnya. Perbedaan antara pemahaman hakekat hukum melalui metode membaca dan memahami maksim hukum dengan menggunakan metode pendefinisian adalah dengan pendefinisian, rumusan langsung tentang apa yang dianggap sebagai hukum itu dikemukakan; sedangkan di dalam maksim, kalimat-kalimat itu tidak langsung merumuskan apa yang dianggap sebagai hukum, melainkan mereka mengemukakan berbagai aspek hukum, contohnya : tentang sifat hukum, tujuan hukum, fungsi hukum, hubungan hukum dan moral,  hubungan hukum dengan keadilan, hubungan hukum dan kekuasaan, dan seterusnya.


[1] H.L.A. Hart, Konsep Hukum (The Concept of Law), Bandung, Nusa Media, 2010, hal. 9

[2] J.J.H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1999, hal. 71

[3] Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Jakarta, Kencana, 2009, hal. 42-43

[4] Ibid, hal. 42

[5] Ibid, hal. 45-46

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s